Refleksi Mahasiswa Magang tentang Gender dan Realitas Sosial Melalui Bedah Buku
Details
By Naldo Jebadu
Naldo Jebadu
Hits: 287
Diskusi Bedah Buku Mahasiswa Magang Bengkel APPeK
bengkelappek.org, Mahasiswa magang Bengkel APPeK NTT menggelar kegiatan bedah buku yang membahas isu penting tentang kesetaraan gender. Kegiatan yang dilaksanakan pada 13 Oktober 2025 ini diikuti oleh 13 mahasiswa magang dan turut hadir koordinator umum Bengkel APPeK, Vinsensius Bureni.
Mahasiswa Magang dari Universitas Nusa Cendana, Carin Theresa Patut, mengangkat tema kelompok pemerhati kesetaraan gender, yaitu kelompok yang peduli dan fokus pada isu-isu keadilan serta kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Ia menjelaskan bahwa isu kesetaraan gender masih menjadi perhatian penting karena masih banyak pandangan dan struktur sosial yang menempatkan perempuan pada posisi tidak setara dengan laki-laki, terutama dalam hal kepemimpinan dan peran publik.
Setelah penyampaian materi, sesi diskusi berlangsung aktif. Maria Sriyati Tewo Kung membuka sesi tanya jawab dengan menanyakan apa yang melatarbelakangi masih kuatnya pandangan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin, serta apakah hal tersebut dipengaruhi oleh struktur sosial atau budaya.
Menanggapi hal itu, Carin menjelaskan bahwa perempuan sering dianggap lemah secara emosional dan mudah terpengaruh oleh masalah di luar pekerjaan, sehingga dianggap kurang mampu dalam memimpin.
”Pandangan seperti itu muncul karena pengaruh budaya patriarki yang masih kuat dalam Masyarakat”, tambah Carin.
Selanjutnya, Francklyn Jibrael Bekak menyoroti peran ganda dalam rumah tangga. Ia menanyakan pandangan Carin mengenai kondisi di mana laki-laki setelah pulang kerja masih harus membantu pekerjaan rumah tangga, sementara istrinya tidak bekerja.
“Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang semakin modern. Kini banyak perempuan yang sudah menempuh pendidikan tinggi, sehingga cara pandang mereka terhadap peran dalam rumah tangga pun berubah,” ujar Carin.
Pertanyaan berikut datang dari Musa Umbu Togola, yang mengaitkan isu gender dengan konstruksi sosial. Ia berpendapat bahwa gender merupakan hasil dari konstruksi budaya dan sosial, lalu menanyakan apakah hal tersebut juga dapat mengakomodasi munculnya fenomena LGBT.
Carin menjelaskan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi karena adanya pengaruh budaya Barat yang semakin berkembang. Uto kemudian menanyakan kembali apakah fenomena LGBT dapat dianggap sebagai bentuk kebingungan budaya atau perkembangan budaya.
“Keduanya bisa saja terjadi, karena sebagian orang menganggap LGBT merupakan bawaan sejak lahir, sedangkan sebagian lainnya melihatnya sebagai pengaruh lingkungan,” tegas Carin.
Diskusi ini terus berlanjut dengan pertanyaan dari Zaini Kade Embu Mbipi, yang menanyakan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya kesetaraan gender.
Selaku pembedah buku Carin menyampaikan bahwa langkah pertama dapat dimulai dari pemahaman agama yang menekankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, perlu ada sosialisasi dari pemerintah serta dukungan keluarga sebagai lingkungan terdekat dalam menanamkan nilai kesetaraan sejak dini.
Zaini juga menanyakan tentang anak-anak yang mendapat tekanan berlebihan dari orang tua hingga membentuk perilaku tertentu, seperti menjadi tomboi atau sebaliknya.
Menanggapi hal tersebut, Carin mengatakan bahwa Semua kembali pada peran orang tua dalam mendidik anak secara seimbang agar tidak terjadi tekanan yang berlebihan.
Sebagai penutup kegiatan, Koordinator Umum Bengkel APPeK, Vinsen Bureni memberikan pandangan yang memperkaya pemahaman peserta. Ia menegaskan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan merupakan kodrat yang tidak dapat dipertukarkan, namun peran sosial keduanya dapat berubah mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat modern.
“Saat ini sudah banyak perempuan yang menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang kuat dan berperan aktif di berbagai bidang, sehingga pandangan lama yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat perlu direkonstruksi agar sejalan dengan semangat kesetaraan”, tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa fenomena LGBT yang turut dibahas dalam sesi diskusi dapat dipahami sebagai bagian dari pemikiran feminisme liberal radikal, yang menekankan kebebasan individu dalam menentukan identitasnya. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya menyikapi isu tersebut secara kritis dan bijaksana, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya, dan moral yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Kegiatan bedah buku ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi mahasiswa magang Bengkel APPeK untuk memahami secara mendalam isu kesetaraan gender dan keadilan sosial. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan teoretis, tetapi juga menumbuhkan kepekaan, empati, dan sikap kritis terhadap persoalan ketidakadilan gender di sekitar mereka.***
Penulis: Rolani (Mahasiswa Magang di Bengkel APPeK NTT dari Universitas Nusa Cendana)
Aktif mendampingi dan melakukan kegiatan advokasi dengan masyarakat Kabupaten Kupang, Memiliki Spesialisasi di Bidang Pemantauan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah
Education
Menyelesaikan S1 Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Tahun 2018.
Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung
Tentang Kami
Kami adalah Organisasi Berbadan Hukum, Perkumpulan Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan, dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan, serta Pengembangan TKLD di Berbagai Level.
Alamat
Kantor Bengkel APPeK
Jalan Raya Baumata Penfui Lingkungan Kampung Baru, RT 024/RW 011 Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur