Selamat Datang di Website Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung

Penelitian

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Peternakan Kerbau di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur

BengkelAPPeK.org - Bengkel APPeK bekerja sama dengan Universitas Mataram atas dukungan program Koneksi  melakukan penelitian tentang dampak perubahan iklim terhadap perkembangan populasi kerbau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Kupang, tepatnya di Desa Tanah Putih dan Desa Oelatimo.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak perubahan iklim terhadap perkembangan populasi ternak kerbau, serta untuk mengetahui bagaimana peternak menyiasati perubahan iklim yang terjadi terhadap perkembangan ternak kerbau.

Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2023-Januari 2024 dengan metode wawancara terstruktur serta FGD untuk mendapatkan informasi dari peternak kerbau, pemerintah desa, tokoh perempuan, tokoh masyarakat dan juga meminta data dari pemerintah daerah Kabupaten Kupang.

Ringkasan Penelitian

Kurangnya pemahaman Masyarakat tentang dampak dari perubahan iklim yang dapat berdampak pada peternakan kerbau dan tidak semua lembaga atau organisasi yang ada di tingkat desa berperan terhadap perkembangan ternak oleh karena tugas dan tanggung jawab masing-masing sehingga ada beberapa lembaga yang memiliki peran seperti pemerintah desa, BPD, BUMDes, Lembaga Adat, Kelompok tani / peternak dan juga dinas peternakan / PLL untuk memastikan perkembangan, vaksinasi dan tempat penggembalaan serta kebijakan yang mengatur terkait dengan pengembangan dan ketertiban dalam lingkungan desa.

Pengetahuan dan kesadaran dari pemilik ternak untuk mengidentifikasi penyakit yang dialami oleh ternak juga masih kurang sehingga menyebabkan banyak ternak yang mati karena di serang oleh penyakit berupa penyakit lendir kuning pada mulut dan hidung, dan pembengkakan pada kepala, kondisi ini tidak cepat di antisipasi oleh peternak sehingga terjadinya kematian pada ternak kerbau.

Kalender Musim: alat pengumpulan data yang terkait dengan waktu, yang digunakan untuk memfasilitasi masyarakat untuk dapat mengidentifikasi musim-musim dan kegiatan-kegiatan dimasyarakat/kelompok dalam berbagai aspek, mengidentifikasi hubungan antara musim dengan kegiatan masyarakat/kelompok.

Musim/Bencana

Jan

Feb

Mar

April

Mei

Juni

Juli

Agust

Sep

Okt

Nov

Des

Musim Tanam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> Padi

**

***

*

 

 

 

 

 

 

 

 

*

> Holtikultura

 

 

 

 

 

*

**

***

 

 

 

 

Musim Panen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> Padi

 

 

 

 

*

***

**

 

 

 

 

 

> Holtikultura

 

 

 

 

 

 

 

 

**

***

 

 

Musim Hujan

**

***

**

*

 

 

 

 

 

 

*

**

Musim Kemarau

 

 

 

 

*

**

**

**

***

***

**

 

Persiapan Lahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebun

 

 

 

 

 

 

 

 

**

***

**

 

Sawah

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

**

Musim Pancaroba

 

 

 

***

**

*

 

 

 

 

 

 

Musim Dingin

 

 

 

 

*

***

**

 

 

 

 

 

Musim Lapar

 

*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*

Hama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> Padi

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> Holtikultura

 

 

 

 

 

 

**

***

 

 

 

 

> Ayam

 

 

 

 

 

 

 

 

**

**

**

 

> Ternak Babi

 

 

**

***

**

 

 

 

 

 

 

 

> Ternak Kerbau

**

**

**

***

*

 

 

 

 

 

 

 

> Ternak Sapi

***

***

 

***

**

 

 

 

 

 

 

 

Urusan Adat

 

 

 

 

 

*

*

**

**

***

**

 

Penyakit Pada Manusia

***

**

 

 

 

 

 

**

**

 

 

 

Ditemukan bahwa penyakit pada ternak kerbau berkisar pada bulan januari hingga bulan mei dan pada bulan januari – maret penyakit yang di alami ternak kerbau kategori sedang, pada bulan april paling rentan mengalami penyakit dan pada bulan mei penyakit berkurang, adapun penyakit yang dialami ternak kerbau antara lain sakit lendir dari mulut dan hidung, bengkak di kepalayang meyebabkan ternak kerbau mati bila tidak di tangani dengan baik dan di berikan vaksin. Upaya yang dilakukan warga adalah melaporkan kondisi ternak kerbau pada petugas PPL peternakan dan dokter kesehatan hewan di kabupaten kupang.

A. Pakan Kerbau di Kabupaten Kupang NTT

Salah satu masalah yang dihadapi oleh peternak kerbau adalah lahan pengembalaan yang semakin berkurang, ketersediaan pakan masih tergantung dengan pakan yang tumbuh liar dan belum ada upaya dari pemilik ternak untuk menyediakan dan menanam pakan.

Pada musim hujan pakan berlimpah namun pada musim kemarau pakan berkurang sehingga peternak kerbau memelihara dengan cara melepas di daerah persawahan juga dengan memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak kerbau.

Jenis-jenis pakan Kerbau yang diberikan oleh peternak kerbau di Kabupaten Kupang NTT adalah:

  1. Musim kemarau: Sekam, jerami dan rumput di sawah
  2. Musim Hujan: mengandalkan produksi rumput di gunung  

Sedangkan untuk kebutuhan minuman ternak adalah mengandalkan ketersediaan air bedungan, sungai dan sumur bor. Lahan pengembalaan kerbau pada saat musim kemarau dilahan persawahan dan pada saat musim hujan di hutan dekat kampung.

B. Partisipasi Perempuan Terhadap Peternakan Kerbau Di Kabupaten Kupang NTT

Di kabupaten Kupang Perempuan memiliki peran penting dalam peternakan kerbau saat Laki-laki menggembalakan ternak maka perempuan yang mengumpulkan pakan. Pada saat melakukan penjualan ternak laki-laki dan Perempuan akan berdiskusi untuk menentukan harga tergantung ukuran ternak dan di tentukan juga pada urusan mendesak (keluarga & adat).

Sedangkan pada saat memberikan minum ternak peran laki-laki mengusir kerbau ke lokasi air dan peran perempuan mengambil atau menimba air untuk ternak yang diikat/dikandangkan. Dalam pembuatan kandang ternak Perempuan juga membantu laki-laki dalam mencari kayu sebagai bahan pembuatan kandang.

Disaat kerbau terkena penyakit dan pengobatan dilakukan secara tradisional maka laki-laki akan mencari obat di hutan dan Perempuan berperan dalam meracik (menumbuk) obat tersebut. Pemeliharaan kerbau dilakukan dengan dikandangkan dan di lepas bebas, saat laki-laki menggembala Perempuan yang menjaga.

Kepemilikan ternak kerbau berupa individu dan marga sehingga dalam melakukan pemeliharaan bagi yang memiliki ternak secara pribadi di pelihara sendiri sedangkan ternak yang merupakan milik marga pemeliharaannya dengan cara bergantian. Demikian juga dengan hasil penjualan bagi peternak pribadi hasilnya menjadi milik keluarga itu sendiri sedangkan hasil ternak yang merupakan milik marga di jual dan hasilnya di bagi bersama. Yang paling dominan menjual ternak kerbau adalah pihak laki-laki atas persetujuan dari keluarga atau istri.

Ternak kerbau pada zaman dulu merupakan ikon di kabupaten Kupang. Hal ini tergambar dari jumlah ternak pada tahun 90an berkisar 200-250 ekor, pada tahun 2000an 90-120 ekor, pada tahun 2010an 60-80 ekor dan pada tahun 2020an 58 ekor. Namun dalam perjalanannya waktu dari tahun ke tahun perkembangan ternak kerbau semakin menurun, hal ini disebabkan oleh:

  • Lahan yang semakin sempit yang menyebabkan banyak warga yang menjual ternak kerbaunya.
  • Adanya kejenuhan dari peternak oleh karena produksi pada ternak kerbau yang sangat lambat, hal ini terjadi karena cara berternaknya masih tradisional (gembala).
  • Kurangnya peminat pembeli terhadap ternak kerbau sehingga semangat untuk mengembangkan ternak kerbau rendah.
  • Terjadinya wabah penyakit yang merajalela pada ternak kerbau pada tahun 90an yang menyebabkan populasi ternak semakin berkurang.
  • Kurangnya perhatian pemerintah terhadap ternak kerbau di kabupaten Kupang.
  • Pada tahun 2016-2017 terjadinya kekeringan yang menyebabkan sumber air yang kurang dan terjadinya wabah penyakit pada ternak kerbau.
  • Kurangnya kemauan generasi muda untuk menggembalakan kerbau.
  • Salah satu penyebab warga tidak memelihara kerbau karena sudah menggunakan alat modern (dulu membajak sawah dengan menggunakan kerbau, tetapi sekarang menggunakan traktor).
  • Tingkat perkembangan ternak kerbau lebih lambat daripada ternak lainnya seperti sapi, kuda, babi, dan kambing. Walaupun harga ternak kerbau lebih mahal daripada ternak lainnya, dan ternak lainnya lebih mudah dipelihara dari pada ternak kerbau.
  • Kerbau tidak menjadi bagian dari prioritas kebijakan pemerintah.

Risiko Dampak Perubahan Iklim di Desa Tanah Putih dan Oelatimo Kabupaten Kupang NTT

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Peternakan Kerbau di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur

Perubahan iklim menjadi fenomena yang terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, dua desa yang akan menjadi lokasi penelitian saat ini adalah Desa Tanah Putih dan Desa Oelatimo. Bagaimana gambaran dari dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh Masyarakat desa selama 10 tahun terakhir, dampaknya bagi keluarga, masyarakat khususnya bagi petani, dan juga peternak kerbau.

Keadaan iklim yang semakin hari semakin tidak menentu di alami oleh warga hal ini terungkap dari tahun 2015 hingga saat ini apa yang di alami oleh warga baik secara pribadi maupun secara umum yang di alami oleh petani peternak yang sangat berdampak bagi kelangsungan hidup mereka, dan upaya yang dilakukan warga untuk dapat meminimalisir situasi yang di alami baik secara langsung pada manusia, buatan maupun sumberdaya alam dan ekonomi.

Hal ini di temukan bahwa terjadinya perubahan iklim membuat warga tidak dapat memprediksi waktu untuk menanam kendala lain yang dialami oleh warga kurangnya pengetahuan terhadap perubahan iklim yang terjadi sehingga menimbulkan kerugian bahkan adanya korban jiwa pada manusia. Kelompok yang terkena dampak yakni perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan lainnya seperti lansia.

  • Skala Kemungkinan
Skala Kejadian Berulang Kejadian Tunggal Dampak kepada siapa (laki-laki, perempuan, anak-anak)    
- HamaKekeringanVirus babiVirus kerbauBanjirPenyakit pada manusiaGagal panen/gagal tanamKurang ketersediaan pupuk Menurunnya pendapatan (ekonomi)Harga ditentukan pembeliKendala pemasaranUrusan keluargaTebas bakar CovidSeroja LongsorBendungan jebolJebol kolam/tambakKekurangan air pada ternak Manusia: Perempuan,anak-anak, dan disabilitas dan lansia    

Berbagai kejadian yang di alami oleh warga baik kejadian tunggal maupun kejadian berulang yang di alami oleh masyarakat saat ini dan yang yang paling berdampak pada situasi ini adalah perempuan, anak, disabilitas dan lansia. Yang berdampak pada kondis ekonomi yang tidak menentu yang menyebabkan warga mencari alternative lain untuk menunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

  • Skala Konsekuensi
Skala Keterangan
Luar Biasa (Katastropik) [3] HamaKekeringanVirus babiPenyakit pada manusiaKurang ketersediaan pupuk Menurunnya pendapatan (ekonomi)Kendala pemasaran
Menengah [2] Virus kerbauUrusan keluarga Harga ditentukan pembeliCovidSeroja LongsorBendungan jebolJebol kolam/tambakBanjir
Tidak Nyata (Insignificant) [1] Tebas bakarKekurangan air pada ternakGagal panen/gagal tanam

Tabel rangking paling sering:

no

Daftar jenis ancaman/ resiko/ masalah

Hampir pasti (Nilai 3)

Mungkin (Nilai 2)

Jarang (Nilai 1)

Skor

1

Hama

3

 

 

 

2

Kekeringan

 

2

 

 

3

Virus ternak

 

2

 

 

4

Penyakit manusia

3

 

 

 

5

Gagal tanam

 

 

1

 

6

Gagal panen

 

 

1

 

7

Kurang ketersediaan pupuk

3

 

 

 

8

Menurunnya pendapatan

3

 

 

 

9

Kendala pemasaran

 

2

 

 

10

Kekurangan air pada ternak

 

 

1

 

11

Urusan keluarga

3

 

 

 

12

Harga ditentukan pembeli

 

2

 

 

13

Bendungan jebol

 

 

1

 

14

Covid

 

2

 

 

15

Longsor

 

2

 

 

Ditemukan 15 jenis ancaman yang di alami oleh warga baik hampir terjadi, mungkin terjadi dan jarang terjadi, hampir terjadi di maksud karena warga mengalami secara terus menerus dan menjadi ancaman bagi warga desa, baik pada manusia, ternak dan juga tanaman sebagai sumber penghidupannya. Tabel ranking Paling berdampak (voting)

Daftar jenis ancaman/resiko/masalah

Sangat bahaya

bahaya

Agak bahaya

Kurang Bahaya

Tidak Bahaya

Rangking

Hama

 

*

 

 

 

2

Kekeringan

 

 

 

*

 

9

Virus ternak

 

*

 

 

 

5

Penyakit manusia

 

*

 

 

 

3

Gagal tanam

 

*

 

 

 

4

Gagal panen

*

 

 

 

 

1

Kurang ketersediaan pupuk

 

 

*

 

 

8

Menurunnya pendapatan

 

 

*

 

 

6

Kendala pemasaran

 

 

 

*

 

10

Kekurangan air pada ternak

 

 

 

*

 

11

Urusan keluarga

 

 

*

 

 

7

Harga ditentukan pembeli

 

 

 

*

 

12

Dari hasil ini di temukan bahwa yang paling berdampak antara lain gagal panen, hama, penyakit pada manusia, gagal tanam, virus pada ternak yakni ternak besar dan ternak kecil yang merupakan sumber pendapatannya, menurunnya pendapatan, urusan keluarga, kurangnya ketersediaanya pupuk yang menyebabkan tanaman kurang subur dan mempengaruhi hasil yang di peroleh, kekeringan terutama pada lahan sawah warga, pemasaran hasil, kekurangan air pada ternak dan harga di tentukan oleh pembeli.

Tabel Resiko Frekuensi dan Dampak

Ranking

Resiko Frekwensi

Resiko Dampak

Skoring

Gagal panen

Sering terjadi setiap tahun

Berdampak pada pendapatan, kesehatan, pendidikan

6

Hama

Terjadi setiap tahun

Berdampak pada pendapatan, pendidikan

5

Penyakit manusia

Terjadi setiap tahun pada musim tertentu secara khusus pada anak

Berdampak pada pendapatan, kesehatan, pendidikan

3

Gagal tanam

Terjadi setiap tahun pada musim tertentu secara khusus pada tanaman padi

Berdampak pada pendapatan, gagal tanam pada tanaman padi

4

Virus ternak

Terjadi setiap tahun pada musim pancaroba

Berdampak pada pendapatan

2

Menurunnya pendapatan

Terjadi setiap tahun

Berdampak pada perempuan dan anak

3

Urusan keluarga

Terjadi setiap tahun

Hubungan keluarga yang kurang harmonis

2

Kurang ketersediaan pupuk

Setiap tahun

Tanaman tidak subur

2

Kekeringan

Terjadi setiap tahun

Ternak, tanaman, air minum bagi manusia

4

Disclaimer : Artikel ini telah tayang di koneksi-resilience.org***

#Tagline :

Tim Media
Terbentuk sejak Tahun 2014 dan aktif menyampaikan berbagai informasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Bengkel APPeK NTT.
Bengkel APPeK

www.BengkelAPPeK.org

Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung

Tentang Kami

Kami adalah Organisasi Berbadan Hukum, Perkumpulan Nirlaba yang Melakukan Fasilitasi dan Implementasi Langsung  dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Rentan, Perempuan, dan anak pada Komunitas Desa-Kelurahan, serta Pengembangan TKLD di Berbagai Level.

Alamat

Kantor Bengkel APPeK

Jalan Raya Baumata Penfui
Lingkungan Kampung Baru, RT 024/RW 011
Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur

Email

bengkel.appek@gmail.com

Media Sosial Bengkel APPeK